Bersama Kemendikbudristekdikti, Untirta Adakan Program Pemberdayaan Masyarakat untuk Mengembangkan Desa Banyubiru

  • Whatsapp
Foto bersama usai pembukaan dan sosialisasi Program Pemberdayaan Masyarakat Unggulan Perguruan Tinggi (PPMUPT) di Desa Banyubiru, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, Banten. (FOTO: ISTIMEWA)

BANTENINSIGHT.CO.ID – Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) didukung oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemendikbudristekdikti) menyelenggarakan Program Pemberdayaan Masyarakat Unggulan Perguruan Tinggi (PPMUPT) di Desa Banyubiru, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, Banten.

Kegiatan tersebut mengusung tema Pengembangan Desa Inovasi Eko-Agrowisata Berbasis Ketahanan Pangan.

Bacaan Lainnya

Adapun tahun 2022 merupakan periode ketiga program ini berjalan dengan produk berbeda yang dihasilkan setiap tahunnya.

Hal ini disampaikan oleh Dr. Heni Pujiastuti selaku Ketua PPMUPT sekaligus Wakil Dekan II FKIP UNTIRTA dalam pembukaan kegiatan.

“Kita sudah bekerjasama selama tiga tahun di desa ini. Tahun ini, kami akan mengembangkan produk hasil pengolahan limbah non-organik yang akan dijadikan produk-produk kreatif seperti pot tanaman dari limbah kain, ecobreaks dari limbah plastik dan botol plastik untuk pengganti bata atau bambu, membuat saung kreatif, dan cinderamata khas desa ini yang dibuat dari limbah non-organik itu,” ujar Heni dalam keterangan tertulis pada Sabtu (23/7/2022).

Heni menyarankan agar produk-produk tersebut bisa jadi souvenir dan pendukung pengembangan pariwisata.

Pengembangan desa ini, ungkap Heni, menjadi salah satu tanggung jawab para akademisi Untirta dalam penerapan Tridarma Perguruan Tinggi.

“Desa Banyubiru ini masuk sebagai desa prioritas pariwisata daerah. Kami selaku akademisi Untirta memiliki tanggung jawab untuk berkontribusi mengembangkan desa ini sebagai upaya implementasi dari tugas Tridharma kami yaitu mengajar, meneliti, dan mengabdi kepada masyarakat,” tutur Heni.

“Jadi kami tidak hanya sibuk dengan memberikan perkuliahan kepada mahasiswa saja di kampus,” tambahnya.

Kegiatan utama program ini, papar Heni, yakni pengembangan Home Industry Eko-Agriwisata yang memanfaatkan limbah non-organik menjadi produk-produk kreatif untuk pengembangan pariwisata Desa Banyubiru.

Hari pertama, dilaksanakan pembukaan dan sosialisasi kegiatan yang dihadiri oleh masyarakat Desa Banyu Biru, pemerintah desa, mahasiswa, tim PPMUPT lainnya.

Kemudian kegiatan dilanjutkan melalui pendampingan program dalam pembuatan produk bersama masyarakat Desa Banyubiru.

Mengingat limbah non-organik menjadi masalah utama di setiap tempat pariwisata, gagasan mengelola limbah non-organik menjadi produk-produk kreatif bisa dijadikan solusi dalam mengembangkan pariwisata desa sekaligus mengurangi volume limbah non-organik yang mengganggu keindahan dan kenyamanan tempat pariwisata.

Hal itu dikatakan Dr. Rudi Haryadi selaku Anggota PPMUPT sekaligus dosen Pendidikan Fisika FKIP UNTIRTA.

“Nantinya gagasan membuat produk kreatif dari limbah non-organik bisa dikembangkan dan dikelola desa,” ujarnya.

Lebih lanjut Rudi menyampaikan, produknya bisa dijual untuk oleh-oleh pengunjung yang datang ke tempat ini.

“Selain mengurangi tumpukan sampah, ini bisa jadi mengangkat perekonomian masyarakat,” katanya.

Berbagai produk hasil yang telah dihasilkan melalui kegiatan ini selanjutnya diserahkan kepada masyarakat yang secara formal diterima oleh perangkat Desa Banyubiru.

Adapun beberapa produk lainnya diserahkan kepada masyarakat secara langsung saat pendampingan berlangsung.

Sementara itu, Sarjaya selaku Kasi Pemerintahan Desa Banyubiru yang terus mendampingi tim PPMUPT dalam melaksanakan seluruh program kegiatan di Desa Banyubiru, mrngungkapkan kegiatan ini sangat positif dan memberikan sudut pandang baru terkait pengembangan pariwisata di desa bagi masyarakat Desa Banyubiru.

“Alhamdulillah, program Kegiatan PPMUPT yang di adakan oleh Untirta di Desa Banyubiru Kecamatan Labuan Kabupaten Pandeglang sangat bermanfaat dan membantu masyarakat untuk lebih kreatif dalam memanfaatkan limbah non-organik dari rumah tangga sehingga masyarakat mampu membuat berbagai kerajinan tangan dari limbah tersebut, seperti gantungan kunci, tas dari plastik bekas kopi dan pot bunga dari kain bekas yang sudah tidak terpakai,” ungkapnya.

Sanjaya juga menyampaikan ucapan terima kasih dan harapannya kepada Untirta. “Terima kasih kepada pihak Untirta yang sudah menyelenggarakan program untuk masyarakat Desa Banyubiru. Semoga ke depan masih banyak program lain yang dapat dilaksanakan di desa kami untuk membantu meningkatkan kreatifitas dan membantu mengangkat perekonomian masyarakat Desa Banyubiru,” tutupnya. (*)

Pos terkait