Kebijakan Penutupan Destinasi Wisata Membingungkan Warga dan Pengusaha

  • Whatsapp
Foto: Fikram/Banteninsight

SERANG, BANTENINSIGHT.CO.ID – Kebijakan Gubernur Banten Wahidin Halim untuk menutup destinasi wisata di Provisi Banten sejak 16 Mei hingga 30 Mei. Kebijakan tersebut diambil karena kerawanan dan pelanggaran protokol kesehatan dari para wisatawan.

Bacaan Lainnya

Akan tetapi, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) menilai kebijakan tersebut membingungkan masyarakat dan pelaku wisata.

“Keputusannya ini (keluar) di tengah-tengah perjalanan. Karena kan pada seminggu yang lalu sudah diperbolehkan wisata,” kata Ketua Harian Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Serang Doddy Fathurrohman, Minggu (16/5).

Menurutnya, dengan adanya kebijakan larangan wisatawan yang dikeluarkan secara dadakan oeh Gubernur Banten tersebut. Para pengusaha hotel dan pariwisata harus menanggung kerugian dari sisi ekonomi karena sudah banyak biaya yang dikeluarkan.

“Ini konsuekuensianya adalah pengelolah dan pengusaha pariwisata yang sudah melakukan promosi, kegiatan marketing, dan sudah menyiapkan beberapa kegiatan-kegiatan untuk menambah penjualan dengan dibukanya wisata untuk tamu-tamu lokal,” katanya.

“Namun di tengah-tengah pelaksanaan liburan ada larangan. Jadi kita ada konsekuensi yang harus kita lakukan (tanggung) mulai dari refund (pengembalian dana) ke tamu-tamu yang sudah melakukan booking atau tamu-tamu kami yang sedang dalam perjalanan, tiba-tiba diperjalanan harus diberhentikan dipulang arahkan. Ini juga sangat melukai citra pariwisata itu sendiri,” lanjutnya.

“Semangat dari pemerintah ini sih kami sangat mendukung, apalagi kalau dari awal dibuatkan aturan yang tidak saling bertabrakan. Mudik dilarang wisata dibuka. Pas wisatanya tiba-tiba membludak tiba-tiba dilarang seperti itu. Ini kan kebijakan yang sangat bertentangan satu dengan yang lain. Lumayan membuat bingung juga. Saya lihat Polisi juga bingung sepertu kemarin pas wisawatan penuh,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua PHRI Provinsi Banten Ahmad Sari Alam mengatakan ia mendukung langkah yang di ambil oleh Gubernur Banten terkait penutupan sementara destinasi pariwisata di Provinsi Banten.

“Kita sebagai warga negara yang baik ya harus mengikuti aturan. Walaupun penderitaan kita (pengusah pariwisata) itu sudah berlangsung lebih dari satu tahun. Karena ini untuk kebaikan semuanya. Jangan sampai menimbulkan masalah yang besar kita malah menyesal,” katanya.

Kendati demikian dengan adanya penutupan sementara destinasi pariwisata tersebut membuat pihaknya terkejut.

Hal yang begini ini (pengunjung wisata membludak) pada kebakaran jenggot,” pungkasnya. (Fikram)

Pos terkait