Ketua LPA Pandeglang Kecam Oknum Satpol PP Pelaku Kekerasan Terhadap Anak

  • Whatsapp
Ilustrasi kekerasan pada anak (Foto: Istimewa)

PANDEGLANG, BANTENINSIGHT.CO.ID – Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kabupaten Pandeglang Ahmad Adharudin mengecam tindak kekerasan yang dilakukan oknum Satpol PP berinisial HR kepada anak tirinya berinisial FA yang berusia delapan tahun.

“Kami jelas mengecam perlakuan tersebut. Selama ini kami bekerjasama bersama berbagai pihak salah satunya dalam rangka dan upaya pencegahan terjadi segala macam tindak kekerasan terhadap anak,” katanya saat dihubungi melalui sambungan telephone, Senin (4/10).

Kata dia, dugaan kekerasan fisik dan psikis yang dilakukan HR kepada ananda FA (8 th), jelas itu satu bentuk perlakuan yangg menodai hak anak. Ia juga mengatakan kekerasan fisik yang dialami oleh FA bukan yang pertama kali.

“Saya meyakini bahwa kondisi perlakuan tersebut bukanlah yang pertama kali. Pelaku dengan kondisi relasi kuasa seperti itu, biasanya sudah dilakukan beberapa kali yang pada akhirnya terbongkar ketika korban sudah tidak kuat menanggung derita serta melaporkan hal ini kepada orang yangg dipercayainya,” katanya.

Pihaknya mendorong kepolisian dalam hal ini Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (UPPA) Polres Pandeglang untuk melakukan proses hukum dengan profesional dan berpihak kepada kepentingan terbaik untuk anak.

“Perlakuan kekerasan terhadap anak, apapun jenis dan bentuknya, adalah upaya pengabaian hak-hak anak. Jika korban dan ayah korban atau siapapun warga masyarakat bersedia melapor kepada kami, insya Allah kami bantu dengan segenap upaya kami,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua Bidang Kajian & Pemantauan Hak Anak LPA Provinsi Banten Adi Abdillah mengatakan perlakuan kekerasan baik fisik, psikis terlebih seksual terhadap anak, tentu tidak sejalan dengan ruh serta amanat dari UU No 35 tahun 2004 tentang Perlindungan Anak.

Kata dia, Sesuai pasal 76 C JO pasal 80 ayat (1) UU Perlindungan Anak disebutkan bahwa pelaku kekerasan fisik dapat dipidana maksimal 3 tahun 6 bulan, serta denda Rp. 72.000.000. Serta jika si pelaku adalah orangtua atau wali anak, hukumannya ditambah sepertiga.

“Ancaman pidana dan denda tersebut adalah sebagai langkah preventif kepada masyarakat, agar jangan lagi sampai terjadi proses-proses kekerasan terhadap anak,” katanya.

Menurutnya, jika anak dipandang bersalah dan harus mendapatkan hukuman, maka ada opsi-opsi pemberian hukuman lain yang lebih mendidik ketimbang hukuman fisik atau psikis terhadap anak.

“Jika PPA Polres Pandeglang mendapatkan bukti-bukti, saksi dan saksi korban, maka kami, LPA Provinsi Banten serta LPA Pandeglang mendorong Penyidik untuk dapat memproses kasus ini lebih lanjut,” Pungkasnya. (Fikram)

Pos terkait