Menyebut “Pintar” Ternyata Berdampak Negatif Terhadap Anak

  • Whatsapp
Ilustrasi orang tua yang sedang memuji anaknya. (FOTO: FREEPIK)

BANTENINSIGHT.CO.ID – Hampir semua orang tua ingin membesarkan anak-anak yang percaya diri yang sangat percaya pada kemampuan mereka sendiri.

Tetapi bagaimana tepatnya cara orang tua mendorong anak-anak untuk melihat diri mereka sebagai orang yang cerdas dan kompeten?

Bacaan Lainnya

Akankah memanggil anak-anak dengan sebutan “pintar” membantu dalam meningkatkan kepercayaan diri mereka?

Untungnya bagi orang tua, ada serangkaian penelitian yang dapat menjawab semua pertanyaan ini.

Melansir psychologytoday.com, sebuah penelitian menunjukkan bahwa memuji anak-anak karena “pintar” membawa lebih banyak dampak negatif daripada memuji anak-anak atas usaha mereka.

Ketika anak-anak dipuji karena “pintar,” mereka akan cenderung kurang tertarik pada pembelajaran itu sendiri dan justru lebih tertarik pada kinerja diri mereka sendiri dan orang lain, dibandingkan dengan anak-anak yang dipuji atas usahanya.

Selain itu, ketika menghadapi kegagalan, anak-anak yang dipuji karena “pintar” cenderung menyalahkan kegagalan mereka diakibatkan karena tidak cukup pintar dan kemudian lebih memilih untuk menyerah begitu saja.

Sedangkan, anak-anak yang dipuji karena “kerja keras” cenderung menyimpulkan bahwa mereka hanya perlu bekerja lebih keras ketika mereka gagal. Dengan demikian, mereka cenderung lebih gigih.

Anak yang dipuji karena “pintar” juga cenderung melihat kecerdasan sebagai sesuatu yang tidak bisa diubah, sedangkan anak yang dipuji karena “kerja keras” memiliki growth mindset yang membuatnya lebih termotivasi untuk terus belajar atau berusaha lebih baik.

Memuji anak-anak karena “pintar” bahkan dapat memicu mereka untuk melakukan kecurangan.

Penelitian lain menemukan bahwa anak-anak yang sering disebut “pintar” lebih mungkin untuk menyontek daripada anak-anak yang dipuji karena kinerjanya, atau tidak dipuji sama sekali.

Anak-anak yang disebut “pintar” akan lebih merasa tertekan untuk terus menjunjung tinggi reputasi yang mereka dapat, sehingga mereka menyontek untuk memastikan hasil kinerja mereka konsisten dengan reputasi yang mereka miliki.

Sebuah penelitian lain juga menemukan bahwa anak kecil bahkan menunjukkan lebih banyak perilaku menyontek ketika mereka mendengar orang lain disebut pintar.

Tips untuk orang tua

1. Cobalah untuk tidak menyebut anak “pintar” atau label apa pun yang mengacu pada kemampuannya. Jenis pujian ini memiliki dampak negatif terhadap  motivasi dan ketekunan anak-anak.

2. Sebaliknya, pujilah anak-anak atas kerja keras dan usaha mereka. Orangtua juga dapat memuji karena fokus anak-anak pada suatu tugas, karena mampu bertahan pada sesuatu yang sulit, atau karena strategi yang mereka gunakan.

Jadi, alih-alih mengatakan, “wow, kamu sangat pintar,” cobalah katakan, “idenya bagus sekali, untuk membangun fondasi terlebih dulu sebelum kamu mulai membangun menara.”

Atau, alih-alih mengatakan, “kamu sangat pandai matematika,” cobalah katakan, “Ibu sangat suka cara kamu bias berkonsentrasi pada masalah matematika itu.”

Atau daripada mengatakan “kamu sangat berbakat dalam membaca,” coba katakanlah, “Ibu suka bagaimana kamu menantang diri sendiri dengan membaca dan tidak menyerah ketika ada kata-kata yang sulit.”

3. Hati-hati menggunakan istilah “pintar” yang ditujukan untuk orang lain di hadapan anak. Penelitian menunjukkan bahwa bahkan mendengar orang lain “pintar” memiliki dampak negatif terhadap anak.

4. Hindari juga melabeli anak “berbakat” yang mungkin memiliki dampak serupa. Jika anak-anak berada dalam acara yang memperlihatkan bakat yang mereka miliki, orang tua perlu berusaha ekstra untuk memuji kerja keras dan ketekunan mereka.

Banyak dampak negatif yang dapat terjadi ketika orang tua melabeli anak-anak mereka dengan sebutan “pintar” atau pujian apa pun yang serupa. Memuji pada usaha, strategi, ketekunan, dan fokus anak-anak lebih membantu mereka dalam berkembang.(***)

Pos terkait